HARGA plastik melonjak 50%-100%. Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Jawa Tengah mendorong pedagang maupun industri beralih ke konsep ramah lingkungan atau zero waste untuk mengurangi pemakaian bahan tersebut
Pemantauan Media Indonesia, Selasa (7/4), para pelaku industri dan perdagangan di sejumlah daerah di Jawa Tengah seperti Pekalongan, Batang, Kendal, Semarang, dan Salatiga menjerit akibat melonjaknya harga plastik pembungkus yang mencapai 50%-100% dari sebelumnya hingga harus melakukan siasat untuk menekan harga.
Menghadapi kenaikan harga plastik tersebut, sejumlah pedagang makanan terpaksa menaikkan harga jual. Tengok saja pedagang es jumbo yang sebelumnya menjual Rp4.000-Rp5.000 per gelas, kini terpaksa mematok harga Rp6.000-Rp7.000 per gelas. Dampaknya, terjadi penurunan omset dalam beberapa hari terakhir.
Harga plastik seperti jenis PP ukuran 1 kilogram yang sebelumnya Rp38.000 naik menjadi Rp16.000, plastik Owol dari Rp5.000 menjadi Rp7.000, plastik cup sebelumnya Rp14.000 menjadi Rp22.000. Bahkan lonjakan harga juga terjadi pada kertas pembungkus nasi dari sebelumnya Rp10.000 per pak menjadi Rp22.000 per pak.
“Sekarang mengurangi pembungkus plastik untuk menjual makanan. Dagangan nasi bungkus gunakan daun pisang dan kertas koran. Repotnya mencari kertas koran bekas sekarang juga sulit,” ujar Ayong, seorang pedagang nadi Padang di Kota Semarang.
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Jawa Tengah July Emmylia mengatakan menghadapi lonjakan harga plastik yang terjadi saat ini, pihaknya mendorong industri maupun pedagang untuk beralih ke konsep ramah lingkungan atau zero waste, sehingga tidak terlalu berdampak pada penjualan produk lain.
“Kita terus melakukan monitoring lonjakan harga plastik tersebut. Sebenarnya hal ini malah ada hikmahnya. Ini karena arahnya nanti kan ke zero waste dan sebetulnya pengurangan penggunaan plastik telah didorong,” kata July Emmy.
Dorongan pengurangan penggunaan plastik ini, menurut July Emmy, implementasinya belum konsisten, sehingga kondisi saat ini menjadi peluang untuk kembali menguatkan gerakan tersebut. “Jadi menurut saya memang kita harus mulai, kalau dulu kan pernah zero plastik, tapi kan tiba-tiba berhenti, itu yang kita harus dorong,” imbuhnya.
Ekspor Turun
Dampak perang Iran vs Israel dan AS ternyata juga berdampak terhadap nilai ekspor dari Jawa Tengah dalam sebulan terakhir, terutama ekspor barang tekstil. Karenanya, industri didorong melakukan diversifikasi pasar.
“Ada penurunan nilai ekspor dari Jawa Tengah yang mencapai 7,23 persen atau sekitar US$300 juta, sektor tekstil terutama di kawasan Amerika Serikat dan kawasan Timur Tengah,” ungkap July Emmy.
Penurunan nilai ekspor terutama produk tekstil itu, demikian July Emmy, dipicu oleh gangguan distribusi global serta merosotnya permintaan dari pasar utama, sebagai dampak terjadinya perang Iran, Israel dan Amerika, meskipun adanya anomali positif pada ekspor ke Arab Saudi.
“Berdasarkan data Surat Keterangan Asal (SKA) yang diterbitkan Disperindag, permintaan dari wilayah tersebut justru meningkat, khususnya untuk kebutuhan pangan jemaah haji,” tambahnya. (I-2)