MENTERI Haji dan Umrah, Mochamad Irfan Yusuf, mengakui pelaksanaan ibadah haji tahun 2026 berlangsung lebih baik dari tahun sebelumnya. Namun, di balik apresiasi itu, angka jemaah haji Indonesia yang meninggal dunia menyentuh angka 290 orang.
Gus Irfan, sapaan akrabnya, justru menyoroti lonjakan kematian dari Sulawesi Selatan dan menyebut daerah itu harus “berbenah total” di bidang kesehatan. Yang lebih mencemaskan, masa kritis dua minggu ke depan masih bisa menambah daftar duka.
Di tengah penyambutan jemaah haji kloter 17 Debarkasi Makassar di Aula Arafah Asrama Haji, Ahad (14/6), Menteri Haji dan Umrah Mochamad Irfan Yusuf justru menyampaikan catatan pahit itu.
Di satu sisi, ia mengakui pelaksanaan haji 2026 secara umum lebih baik dan dinilai bagus oleh berbagai pihak. Namun di sisi lain, ia tak bisa menyembunyikan kekhawatirannya: jumlah jemaah haji yang meninggal dunia mencapai angka 290 orang.
“Alhamdulillah, penyelenggaraan haji tahun ini relatif dianggap teman-teman di luar sebagai yang bagus, lebih baik dari sebelumnya. Tentu kita tidak bisa berbangga dengan itu, karena itu adalah bagian dari upaya kita untuk tiap tahun terus memperbaiki,” ujar Gus Irfan tegas di hadapan awak media.
Yang membuatnya gerah, angka kematian jemaah asal Sulawesi Selatan (Sulsel) disebutnya masih relatif besar dan hampir menyamai tahun lalu. Padahal, hampir semua provinsi lain berhasil menurunkan angka kematian secara drastis. Ironi ini, bagi Gus Irfan, adalah alarm bahaya.
“Ini artinya kita harus berbenah di bidang kesehatan, khususnya Sulsel. Jangan sampai ini terulang,” tegasnya.
Lebih jauh, Gus Irfan melompat ke masa depan. Ia menyebut pelaksanaan haji tahun 2027 akan menghadapi tantangan jauh lebih besar, terutama karena profil jemaah yang semakin rentan.
Untuk itu, ia memerintahkan setiap Kantor Wilayah Kementerian Haji dan Umrah untuk menjalankan standar Istitha’ah (kesehatan dan kemampuan) dengan ketat.
“Tadi saya minta Pak Kakanwil untuk menyiapkan jemaah mulai sekarang. Manasik hajinya bukan cuma soal ibadah, tapi juga manasik kesehatan. Supaya kita bisa menjalankan haji dengan baik, nyaman, dan sehat,” pintanya.
Gus Irfan juga mengaku masih khawatir. Pasalnya, proses pemulangan jemaah haji dari Arab Saudi ke Indonesia masih berlangsung hingga akhir bulan. Ada waktu tersisa sekitar dua minggu yang disebutnya sebagai fase rawan penambahan korban.
“Kami masih khawatir, karena ini masih ada dua minggu pemulangan yang belum selesai. Pemulangan terakhir tanggal 30 Juni sampai 1 Juli. Semoga tidak ada lagi penambahan, sehingga kita cukup di angka itu saja,” ungkapnya dengan nada penuh harap.
Di tengah kabar duka, Gus Irfan menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada para petugas haji, terutama kepada dr. Rezki Fitriani, dokter PPIH Kloter 38 asal Debarkasi Makassar yang wafat saat bertugas di Tanah Suci.
“Kami acungkan jempol kepada almarhumah. Mudah-mudahan beliau wafat sebagai syahid,” ucapnya haru. (H-2)