LAGA Amerika Serikat (AS) kontra Australia pada duel pamungkas Grup D pada Sabtu (20/6) ditutup dengan suasana yang unik. Puluhan ribu pendukung AS dan para pemain bersama-sama menyanyikan lagu legendaris Country Roads. Beberapa hari kemudian, lagu Wonderwall milik Oasis menggema di stadion saat Inggris menang atas Panama. Harry Kane dkk ikut bernyanyi bersama suporter Inggris. Atmosfer stadion pun berubah bak konser.
Pemandangan itu menjadi penanda Piala Dunia 2026 tidak sekadar menjual sepak bola, tetapi juga pengalaman hiburan khas olahraga AS. Selain ekspansi peserta, turnamen edisi ini memperlihatkan AS membawa filosofi industri olahraga mereka ke panggung terbesar sepak bola. Untuk pertama kalinya, Piala Dunia terasa begitu dekat dengan DNA olahraga AS yang megah, sangat komersial, dan dikemas sebagai hiburan menyeluruh.
Sepak bola memang masih menjadi alasan orang datang ke stadion, tapi yang dijual ialah pengalaman menonton. Laga final nanti bahkan disiapkan half time show seperti Super Bowl.
Keberhasilan AS, selaku tuan rumah bersama di Piala Dunia kali ini, terletak pada soal mengekspor cara pandang olahraga kepada FIFA. Ketika AS menjadi tuan rumah edisi 1994, misi mereka memperkenalkan sepak bola. Saat itu FIFA datang membawa sepak bola ke negeri yang lebih akrab dengan NFL, NBA, MLB, dan NHL.
Sekarang situasinya berbalik. Justru AS yang mengubah cara FIFA menjual sepak bola. Arena-arena NFL disulap menjadi stadion sepak bola. Pertandingan diolah menyerupai NFL sampai-sampai kalangan selebritas memperoleh panggung nyaris setara dengan para pemain.
Dalam kultur olahraga di AS, pertandingan hanya satu bagian dari keseluruhan pengalaman yang dijual. Bukan kebetulan FIFA memperbesar skala seremoni pembukaan dan final, memperluas aktivasi komersial, sampai mengemas semuanya lebih dinamis.
Perubahan lainnya juga terjadi di dalam lapangan ketika FIFA mewajibkan jeda hidrasi pada setiap babak, termasuk laga yang dimainkan di stadion beratap, stadion dengan pendingin, atau kota-kota yang suhunya tidak terlalu ekstrem.
Walaupun alasannya demi melindungi pemain dari risiko cuaca ekstrem, aturan tersebut tetap memunculkan perdebatan lantaran dianggap terlalu banyak jeda iklan.
Dampaknya ternyata juga berimbas ke ritme permainan karena seolah terbagi menjadi empat kuarter ibarat NFL atau NBA. Sebagian pelatih menganggap jeda hidrasi menguntungkan karena memberikan kesempatan penyesuaian taktik seperti dirasakan pelatih Brasil, Carlo Ancelotti.
Namun, pelatih Uruguai Marcelo Bielsa memandang persoalannya lebih mendasar. Pasalnya, bermain dalam empat periode mengubah struktur permainan yang biasanya terus mengalir.
Meski Piala Dunia 2026 tampil sangat AS, sepak bola tetap bukan olahraga utama di negara itu. Hari-hari pertama perhatian warga lokal justru tersedot untuk NBA saat New York Knicks meraih gelar juara.
Secara budaya sepak bola masih berada di bawah bayang-bayang olahraga lain di AS. Namun, menariknya, keraguan soal stadion akan kosong tidak terbukti. Meski harga tiket memakai dynamic pricing yang lazim digunakan di AS dan menuai kritik karena terlalu mahal, stadion tetap penuh. Sebelum babak grup rampung, FIFA bahkan mengumumkan jumlah penonton melampaui rekor terbanyak sepanjang sejarah yang pernah dicapai pada edisi 1994.
Barangkali, hal itu juga tidak lepas dari karakter AS sebagai negara yang penuh imigran. Hampir setiap peserta Piala Dunia memiliki komunitas diaspora di ‘Negeri Paman Sam’.
Antusiasme tersebut menunjukkan keberagaman sebagai modal sosial meski AS di bawah pemerintahan Presiden Donald Trump menerapkan kebijakan yang antiimigran. Paradoksnya, hampir setengah skuad timnas AS sendiri memiliki latar belakang imigran.
“Untuk pertama kalinya, Piala Dunia terasa begitu dekat dengan DNA olahraga AS yang megah, sangat komersial, dan dikemas sebagai hiburan menyeluruh.”