PARIS Saint-Germain (PSG) sukses mempertahankan takhta tertinggi sepak bola Eropa setelah menundukkan Arsenal lewat drama adu penalti pada laga final Liga Champions di Puskas Arena, Budapest, Hungaria Sabtu (31/5).
Keberhasilan mempertahankan trofi berkuping lebar itu dinilai memiliki makna yang jauh lebih besar bagi Les Parisiens dibandingkan dengan gelar perdana yang mereka raih musim lalu.
Pelatih PSG, Luis Enrique, menegaskan bahwa pencapaian kali ini terasa luar biasa mengingat tingginya tingkat kesulitan yang harus dihadapi armada asuhannya di atas lapangan.
“Ini lebih besar lagi, karena kami mengetahui kesulitan bermain melawan Arsenal, dan bagi kami sebagai tim serta sebuah kota, sungguh luar biasa bisa memenangkannya,” ujar Enrique dikutip dari AFP.
Dalam laga yang berlangsung ketat tersebut, PSG keluar sebagai pemenang dengan skor 4-3 dalam babak tos-tosan setelah bermain imbang 1-1 hingga babak perpanjangan waktu selesai.
Arsenal sebenarnya sempat memimpin jalannya pertandingan terlebih dahulu melalui gol cepat Kai Havertz saat laga baru berjalan enam menit.
PSG baru bisa menyamakan kedudukan pada paruh kedua, tepatnya di menit ke-65, melalui eksekusi penalti Ousmane Dembele. Hadiah penalti tersebut diberikan setelah Khvicha Kvaratskhelia dijatuhkan di area terlarang.
Pada babak penentuan, Nuno Mendes menjadi satu-satunya algojo PSG yang gagal menunaikan tugasnya.
Beruntung bagi PSG, dua penendang Arsenal, Eberechi Eze dan Gabriel, gagal menceploskan bola ke dalam gawang. Tendangan Gabriel yang melambung tinggi di atas mistar memastikan trofi tetap pulang ke Paris.
Melihat perjuangan anak asuhnya selama kompetisi, Enrique pun menyebutkan anak asuhnya layak mendapatkan gelar juara.
“Saya pikir kami pantas mendapatkannya sepanjang musim ini meskipun final berlangsung sangat ketat,” kata Enrique.
Nostalgia kejayaan itu sekaligus menempatkan PSG sebagai tim pertama yang mampu mempertahankan gelar Liga Champions sejak Real Madrid melakukannya pada periode 2016 hingga 2018.
Bagi Luis Enrique pribadi, hasil merupakan trofi Liga Champions ketiganya sebagai juru taktik setelah sebelumnya sempat membawa Barcelona berjaya pada 2015.
Catatan emas itu membuatnya kini sejajar dengan deretan pelatih legendaris seperti Carlo Ancelotti, Bob Paisley, Zinedine Zidane, dan Pep Guardiola.
Kegembiraan serupa juga diungkapkan oleh sang kapten, Marquinhos. Menurutnya, mempertahankan gelar juara memberikan sensasi dan tekanan yang jauh berbeda.
“Emosinya berbeda kali ini. Luar biasa karena kami mampu melakukannya dua kali berturut-turut,” tuturnya.
Marquinhos menambahkan bahwa sejak awal musim, Enrique selalu mengingatkan seluruh elemen tim mengenai beratnya tantangan untuk mempertahankan mahkota juara.
“Kami menunjukkan betapa besar keinginan kami. Pelatih mengatakan sejak awal musim bahwa memenangkan kompetisi ini sulit, tetapi mempertahankannya jauh lebih sulit. Itulah tujuan kami dan itulah mentalitas yang kami tunjukkan hari ini,” ucapnya.
Laga puncak itu juga mencatatkan sejarah tersendiri sebagai final Liga Champions pertama dalam satu dekade terakhir yang harus dituntaskan lewat adu penalti, sekaligus menjadi final pertama sejak 2014 yang dimenangi oleh tim yang sempat tertinggal lebih dahulu.
Penyerang PSG, Ousmane Dembele, yang menutup musim dengan torehan 20 gol sekaligus memastikan kondisinya baik-baik saja setelah sempat ditarik keluar akibat kram, turut meluapkan kebahagiaannya.
“Ini luar biasa, malam yang hebat. Kami bekerja keras sepanjang musim untuk mewujudkan gelar beruntun ini. Sungguh fantastis. Kami sangat senang dan akan menikmati malam ini,” kata Dembele.
Dembele tidak menampik bahwa perjalanan mereka sepanjang musim ini dipenuhi dengan ujian yang berat.
“Itu sulit. Namun seluruh musim juga sulit. Kami harus menghadapi banyak hal, tetapi pada akhirnya kami kembali menjuarai Liga Champions dan kami semua sangat gembira,” pungkasnya.
Gelar bergengsi itu melengkapi dominasi PSG yang sukses menutup musim dengan raihan lima trofi, setelah sebelumnya mengamankan trofi Ligue 1, Piala Super UEFA, Piala Interkontinental FIFA, dan Piala Champions Prancis.
Selanjutnya, raksasa Prancis itu dijadwalkan bakal menantang jawara Liga Europa, Aston Villa, dalam perebutan Piala Super UEFA di Salzburg, Austria, pada 12 Agustus mendatang. (H-3)