Langit malam di kawasan Candi Borobudur dipastikan akan kembali bersinar dengan ribuan cahaya pada puncak perayaan Tri Suci Waisak 2570 Buddhist Era (BE), Minggu (31/5/2026). Festival Lampion atau yang dikenal dengan “Lentera Perdamaian” tetap menjadi agenda yang paling dinantikan oleh umat Buddha maupun wisatawan domestik dan mancanegara.
Pelepasan lampion ini bukan sekadar atraksi visual, melainkan bagian dari ritual sakral yang melambangkan pencerahan batin dan penyebaran cinta kasih ke seluruh penjuru dunia. Tahun ini, panitia nasional WALUBI dan MBMI telah menyiapkan ribuan lampion ramah lingkungan untuk diterbangkan secara serentak.
Jadwal dan Sesi Pelepasan Lampion 2026
Berdasarkan jadwal resmi dari pengelola Taman Wisata Candi (TWC) Borobudur, festival ini akan dibagi menjadi dua sesi utama untuk mengantisipasi kepadatan pengunjung:
- Sesi 1: Pukul 17.30 – 19.30 WIB (Lokasi: Lapangan Marga Utama & Taman Lumbini)
- Sesi 2: Pukul 21.30 – 23.00 WIB (Lokasi: Lapangan Marga Utama & Taman Lumbini)
Di antara kedua sesi tersebut, akan dilaksanakan acara Dharmasanti Waisak Nasional pada pukul 19.30 – 22.00 WIB yang rencananya dihadiri oleh Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto. Pengunjung yang ingin berpartisipasi dapat membeli tiket melalui platform InJourney atau agen perjalanan digital dengan harga mulai dari Rp65.000 untuk akses kawasan hingga paket khusus pelepasan lampion.
Sejarah Festival Lampion di Borobudur
Tradisi perayaan Waisak di Candi Borobudur memiliki akar sejarah yang panjang, dimulai sejak tahun 1929 oleh Himpunan Teosofi Hindia Belanda. Namun, penggunaan lampion secara masif sebagai bagian dari festival mulai populer di era modern sebagai simbolisasi dari ajaran Buddha mengenai “cahaya”.
Dalam ajaran Buddha, lampion melambangkan pencerahan yang diperoleh Siddharta Gautama. Pelepasan lampion ke angkasa bermakna melepaskan segala hal negatif dalam diri dan menerbangkan doa-doa baik agar didengar oleh alam semesta. Secara historis, Borobudur dipilih sebagai pusat perayaan karena posisinya sebagai candi Buddha terbesar di dunia yang menyimpan nilai spiritualitas tinggi.
Makna Filosofis Lampion Waisak:
- Simbol Pencerahan: Cahaya lampion adalah simbol batin yang terang untuk menembus kegelapan ketidaktahuan (avijja).
- Pelepasan Ego: Menerbangkan lampion melambangkan upaya manusia membuang sifat buruk dan keserakahan.
- Doa dan Harapan: Setiap lampion biasanya ditulisi harapan-harapan positif bagi diri sendiri, keluarga, dan perdamaian dunia.
Aturan bagi Pengunjung
Mengingat kesakralan acara ini, panitia menghimbau seluruh pengunjung untuk mematuhi protokol yang berlaku, di antaranya:
| Pakaian | Wajib sopan (menutup bahu dan lutut), disarankan berwarna putih. |
| Etika | Dilarang membuat kegaduhan saat umat sedang bermeditasi. |
| Keamanan | Dilarang menerbangkan drone pribadi di kawasan inti candi tanpa izin khusus. |
Festival ini diharapkan tidak hanya memperkuat posisi Borobudur sebagai destinasi wisata religi kelas dunia, tetapi juga menjadi momentum refleksi bagi seluruh masyarakat untuk menjaga toleransi dan perdamaian di Indonesia.