KEMUNCULAN wabah hantavirus dan ebola baru-baru ini membawa fenomena yang sudah tidak asing lagi di Amerika Serikat yaitu gelombang teori konspirasi ekstrem. Narasi mengenai plandemic atau pandemi yang direncanakan kembali mencuat, dengan tuduhan bahwa wabah ini sengaja diciptakan untuk mengacaukan pemilihan umum sela (midterm elections) atau memaksakan penggunaan vaksin baru.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperingatkan bahwa Ebola menyebar dengan cepat di Republik Demokratik Kongo dan menimbulkan risiko sangat tinggi di tingkat nasional. Namun, di dunia teori konspirasi, virus mematikan ini dianggap sebagai senjata biologis, plot finansial, hingga skema untuk mengekstraksi sumber daya nasional.
Hantavirus dan Narasi Aktor Krisis
Wabah hantavirus yang bermula di kapal pesiar di Atlantik Selatan–menewaskan tiga penumpang dan menyebabkan sedikitnya 11 orang positif–juga tidak luput dari sasaran. Berbagai klaim liar muncul di media sosial, mulai dari tuduhan bahwa para penumpang adalah aktor krisis hingga keterlibatan Bill Gates dan penggunaan obat cacing kuda, ivermectin, sebagai penyembuh.
Dr. Joseph Uscinski, profesor ilmu politik dari University of Miami, menyatakan bahwa fenomena ini merupakan hal yang normal bagi kelompok yang berpikiran konspiratif. “Jika orang-orang menaruh perhatian pada sesuatu, mereka yang berpikiran konspirasi akan menafsirkan penyakit tersebut melalui lensa mereka. Mereka akan menyalahkan pihak-pihak yang memang sudah mereka benci,” ujarnya.
Catatan Sejarah: Teori konspirasi saat ini tidak jauh berbeda dengan masa wabah AIDS atau covid-19. Pada wabah ebola 2014, sempat muncul narasi bahwa korban akan bangkit kembali sebagai zombi, ide yang dipengaruhi oleh popularitas budaya pop saat itu.
Dampak Politik dan Pelemahan Otoritas Kesehatan
Saat ini, narasi konspirasi terpantau sangat kuat di kalangan sayap kanan AS. Beberapa platform media menuduh hantavirus sebagai upaya transparan untuk meneror warga Amerika dan memengaruhi posisi politik Presiden Donald Trump menjelang pemilu. Mikki Willis, pembuat film Plandemic, bahkan secara eksplisit menyebut bahwa pola yang sama sedang diulang kembali.
Namun, Uscinski menekankan bahwa teori konspirasi tidak selalu bersifat partisan. Karakteristik utamanya bukanlah spektrum kiri atau kanan, melainkan ketidakpercayaan yang mendalam terhadap pusat kekuasaan, baik itu pemerintah maupun perusahaan farmasi.
Ancaman Nyata terhadap Penanganan Wabah
Ironisnya, serangan terhadap otoritas negara justru memperburuk respons terhadap virus. Upaya AS dalam membendung ebola terhambat oleh pemotongan anggaran besar-besaran pada sektor kesehatan publik global, termasuk pembubaran unit di USAID dan pemangkasan riset di CDC.
Ketegangan diplomatik juga terjadi ketika Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, berselisih dengan Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, mengenai kecepatan identifikasi wabah di Kongo.
Sejarawan Thomas Asbridge mencatat bahwa respons terhadap hantavirus dan ebola saat ini memiliki kemiripan dengan masa Black Death di abad ke-14, yang terjadi di tengah krisis finansial dan iklim. Kebingungan publik yang diperparah oleh pesan pejabat yang kontradiktif memberikan celah bagi ahli konspirasi untuk memperkeruh suasana.
“Kita mungkin akan jauh lebih lambat dalam menerima dan merespons apa yang sebenarnya diperlukan,” peringat Asbridge. Di tengah ketidakpastian medis, disinformasi tetap menjadi tantangan terbesar yang dapat menghambat keselamatan publik di abad ke-21 ini. (The Guardian/I-2)