SERANGAN siber melalui surat elektronik (email) terus berevolusi dengan teknik yang semakin sulit dideteksi. Setelah maraknya penggunaan gambar untuk menyembunyikan tautan berbahaya, kini para pelaku kejahatan siber kembali menggunakan metode klasik namun efektif: grafik berbasis teks atau seni ASCII untuk membentuk kode QR.
Berdasarkan data terbaru dari Kaspersky, ancaman menggunakan kode QR (QR phishing) mengalami lonjakan signifikan. Pada paruh kedua 2025, jumlah serangan yang terdeteksi meningkat hingga lima kali lipat dibandingkan periode sebelumnya. Tren ini menunjukkan bahwa penjahat siber semakin mengandalkan kode QR sebagai pintu masuk utama untuk mencuri data sensitif.
Data Pertumbuhan Serangan Phishing QR
| Indikator | Detail Informasi |
|---|---|
| Periode Lonjakan | Paruh Kedua 2025 |
| Tingkat Kenaikan | 5 Kali Lipat (500%) |
| Metode Baru | Kode QR berbasis Karakter Teks (ASCII/Unicode) |
| Tujuan Utama | Melewati pemindaian gambar dan deteksi URL tradisional |
Evolusi dari Gambar ke Teks ASCII
Secara historis, grafik ASCII (American Standard Code for Information Interchange) digunakan pada komputer generasi awal yang belum mampu menampilkan gambar.
Namun, teknik yang diperkenalkan sejak 1963 ini kini dimanfaatkan kembali oleh pengirim spam dan pelaku phishing. Dengan menyusun karakter teks sedemikian rupa hingga membentuk pola kode QR, penyerang dapat mengelabui solusi keamanan email yang biasanya hanya memindai lampiran gambar atau tautan langsung.
Skema yang ditemukan peneliti Kaspersky mengikuti pola penipuan yang rapi. Korban biasanya menerima email yang menyamar sebagai mitra bisnis, seringkali menggunakan tema mendesak seperti penandatanganan dokumen rahasia melalui platform populer seperti DocuSign.
Di dalam email tersebut, korban diminta memindai kode QR berbasis teks untuk mengakses dokumen. Alih-alih dokumen resmi, kode tersebut mengarahkan pengguna ke situs web palsu yang dirancang untuk mencuri kredensial perusahaan.
Komentar Pakar
Roman Dedenok, Pakar Antispam di Kaspersky, menjelaskan bahwa trik ini merupakan upaya sistematis untuk menghindari teknologi keamanan.
“Sebelumnya kita melihat pelaku phishing mencoba menyembunyikan URL dalam gambar. Sekarang mereka kembali ke teks untuk menampilkan kode QR guna menghindari pemindaian berbasis gambar,” ujarnya.
Dedenok menegaskan bahwa penggunaan seni ASCII untuk kode QR hampir dipastikan merupakan upaya ilegal.
“Setiap kejadian di mana kode QR meminta seseorang memasukkan kredensial perusahaan pada perangkat seluler harus segera menimbulkan kecurigaan. Trik ini hanya memiliki satu tujuan: melewati teknologi keamanan,” tambahnya.
Langkah Perlindungan
Untuk mengantisipasi ancaman yang terus berkembang ini, perusahaan disarankan untuk memperkuat benteng pertahanan digital mereka. Kaspersky merekomendasikan penggunaan solusi keamanan server email yang komprehensif, seperti Kaspersky Security for Mail Server.
Solusi ini dirancang untuk menangani berbagai ancaman modern, mulai dari spam, infeksi malware melalui email, hingga skema penipuan yang lebih kompleks seperti Business Email Compromise (BEC) dan serangan kode QR berbasis teks yang baru diidentifikasi ini. (Z-1)